Letusan Gunung Tambora (1815)

komang sue
0
 

Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 merupakan salah satu letusan gunung berapi yang paling signifikan dalam sejarah. Terletak di pulau Sumbawa di Indonesia saat ini, letusan Gunung Tambora berdampak besar pada iklim global, mengakibatkan salah satu tahun terdingin dalam sejarah modern.

Letusan terjadi pada 10 April 1815, dan merupakan salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam 10.000 tahun terakhir. Letusan awalnya terdengar hingga jarak 1.600 kilometer (1.000 mil) dan diperkirakan empat kali lebih dahsyat dari letusan Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut menghasilkan sekitar 160 kilometer kubik (38 mil kubik) abu dan batu, membuat itu letusan terbesar dalam sejarah yang tercatat.
Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.

— Laporan Thomas Stamford Raffles.[5]

https://id.wikipedia.org/wiki/Letusan_Tambora_1815

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup. Di dalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatra pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung. Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.

https://id.wikipedia.org/wiki/Letusan_Tambora_1815

Letusan memiliki konsekuensi yang luas. Abu dan gas yang dilepaskan ke atmosfer menyebabkan suhu global turun sebanyak 3 derajat Celcius (5,4 derajat Fahrenheit) pada tahun-tahun berikutnya. Efek letusan dirasakan di seluruh dunia, dengan cuaca dingin dan basah yang tidak sesuai musim menyebabkan gagal panen dan kelaparan yang meluas.

Di Eropa, musim panas tahun 1816 dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas". Suhu turun secara drastis sehingga salju turun pada bulan Juli di beberapa bagian benua. Dampak pada pertanian sangat menghancurkan, dengan gagal panen yang menyebabkan kelaparan dan penyakit yang meluas. Situasi diperburuk oleh fakta bahwa Eropa masih belum pulih dari Perang Napoleon, yang baru saja berakhir beberapa tahun sebelumnya.

Dampak letusan dirasakan hingga ke Amerika Utara, di mana suhu turun secara signifikan dan menyebabkan gagal panen dan kekurangan pangan. Kondisi dingin dan basah juga menyebabkan peningkatan penyakit, dengan wabah influenza dan penyakit lain dilaporkan terjadi di banyak bagian negara.



Letusan Gunung Tambora berdampak besar pada dunia, menyoroti keterkaitan sistem iklim global. Itu adalah pengingat nyata akan kekuatan alam dan potensi perubahan kecil sekalipun untuk memiliki konsekuensi yang luas. Saat ini, ahli vulkanologi dan ilmuwan iklim terus mempelajari letusan Gunung Tambora dan dampaknya terhadap sistem iklim global, berusaha untuk lebih memahami interaksi kompleks antara atmosfer bumi, daratan, dan lautan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close